Parenting Article

Kehadiran ayah bagi sebagian banyak anak merupakan sosok yang paling ‘menakutkan’. Tidak jarang sosok ayah ini dikesankan sebagai orang yang galak, mudah marah, dan kasar. Oleh karena itulah, banyak anak yang akan merasa ketakutan apabila perilaku buruknya akan dilaporkan kepada sang ayah.

Perlu orangtua sadari bahwa mempengaruhi anak agar merasa takut oleh ayahnya adalah tindakan yang tidak bijaksana. Hal tersebut dapat merusak ikatan bathin antara ayah dengan anak. Apabila sudah demikian, anak tidak mau lagi dekat dengan ayahnya. Padahal, untuk menjadi orang yang sukses anak bukan saja memerlukan peran dan figur dari ibu saja, tetapi juga dari ayah. Banyak hal yang dapat mempengaruhi kesuksesan anak berasal dari peran ayah. Seperti dalam rangka menanamkan sikap kepemimpinan, disiplin, tegas, dan tanggung jawab kepada anak tentu diperlukan peran dan kedekatan ayah kepada anak.

Oleh karena itu, supaya kesan ayah negatif seperti di atas tidak terus melekat di benak anak maka ayah perlu melakukan beberapa pendekatan positif kepada anak. Di antaranya adalah dengan cara selalu menjaga komunikasi, menjadi sahabat, menghargai pendapat anak, memenuhi kebutuhan anak, dan bermain bersama anak (dr. Maya & Wido, 2006).

Kesimpulannya, ayah yang selalu melakukan tindakan positif terhadap anak seperti memperhatikan anak, memberikan apa yang dibutuhkan anak, meluangkan waktu untuk bermain bersama anak, dan menghargai pendapat anak akan mampu membuat diri anak mencintai sosok ayah. Ia akan menjadikan sosok ayah sebagai idola dan teladan dalam hidupnya. Dengan demikian, sikap positif yang ada pada diri ayah tanpa sadar akan tertular pada anak. Ia akan menjadi orang yang sukses, bijaksana, dan dapat mengharagai orang lain.

(Sumber : perkembangananak.com)

Ketika masa puber tiba, anak remaja biasanya mengalami sebuah fase percintaan yang sering dikenal dengan sebutan ‘cinta monyet’. Anak mulai merasa senang jika bergaul dengan teman lawan jenisnya. Di saat seperti ini di antara mereka biasanya akan timbul perasaan untuk saling memperhatikan, mencintai, dan mengasihi.

Namun, pada umumnya hubungan mereka tersebut baru bersifat sementara saja. Jarang sekali di masa puber seperti ini anak langsung memutuskan untuk mengakhiri percintaannya dengan sebuah pernikahan. Sebab, selain mereka belum begitu mengerti tentang seks sebagaimana orang dewasa, merekapun masih cenderung dalam tahap mencari teman dari lawan jenisnya.

Oleh karena itu, menyikapi hal di atas maka orangtua memiliki beberapa kewajiban yang harus dilakukan. Supaya anak tidak terjerumus kepada hal-hal negatif yang dapat merugikan dirinya sendiri dan juga keluarga. Kewajiban orangtua tersebut di antaranya adalah memberikan pendidikan agama, akhlak, sosial, dan mental kepada anak sebelum ia memasuki masa puber. Orangtua harus membekali anak dengan informasi yang benar dan sesuai dengan kebutuhannya. Selain itu, jelaskan kepada anak tentang dorongan seksualitas secara jelas dan dalam batas-batas yang wajar, serta tidak boleh melakukannya kecuali setelah ada ikatan yang sah, menikah (Dr. Akhram Ridha, 2006).

(Sumber : perkembangananak.com)

Sebagian orangtua ada yang selalu ingin mencampuri urusan anak dan mengawasi setiap hal-hal kecil yang dilakukan anak . Salah satu alasannya adalah bahwa semua yang dilakukan mereka tersebut adalah untuk kebaikan anak di masa yang akan datang. Oleh karena itu, orangtua seperti itu selalu berusaha untuk ikut mengatur dan melibatkan diri dalam kehidupan anak mereka. Misalnya, orangtua mengatur anak bahwa pada jam tertentu anak harus belajar, pada hari tertentu anak harus mengikuti kursus sepak bola, setelah pulang dari sekolah anak tidak boleh main ke luar bersama teman-teman di lingkungannya, dan pada jam yang sudah ditentukan pula anak harus tidur siang. Bahkan, orangtua seperti ini biasanya akan mudah mengkritik anak apabila mereka mendapatkan anak melakukan suatu kesalahan. Hal tersebut mereka lakukan supaya hal-hal yang dianggap kurang baik di mata keluarga dapat segera ditinggalkannya.

Setiap orangtua tentu sangat sayang kepada anak. Orangtua sangat mengharapkan di masa depan nanti anak mereka dapat tumbuh dan hidup lebih baik. Namun, dalam upaya mewujudkan kasih sayang tersebut masih banyak orangtua yang menganggap bahwa pemikiran dan tindakan orangtua adalah selalu benar. Padahal pada kenyataannya tidak demikian. Banyak anak justru merasa terkekang, frustrasi, dan terjerumus ke dalam lingkungan yang salah karena ’sikap’ orangtua yang terlalu melindungi, mengatur, dan mengkritik anak.

Mengasuh dan membesarkan anak dengan cara bijaksana dapat membantu anak mampu hidup lebih baik di masa yang akan datang. Berikan kepercayaan kepada anak untuk dapat mengatur dirinya sendiri supaya kelak ia mampu hidup mandiri dan bertanggung jawab. Berusaha untuk mengerti dan empati terhadap tindakan salah yang mungkin sesekali terjadi pada diri anak dapat membuat anak menyadari dan memperbaiki kesalahannya dengan perasaan senang. Jalinlah komunikasi yang baik dengan anak karena dengan demikian ’pembatas’ yang menghalangi batin di antara orangtua dan anak akan hilang. Di antara orangtua dan anak akan tumbuh sikap saling terbuka, saling mengerti apa yang diinginkan oleh masing-masing, dan saling menjaga untuk tidak membuat satu sama lain kecewa atau ’terhianati’.

Satu hal lain yang juga sangat penting untuk mendukung keberhasilan anak adalah terciptanya kondisi ’pertemanan yang baik’ di antara orangtua dengan anak. Seperti kita ketahui bahwa pertemanan yang baik adalah jauh dari sikap mengekang, menjajah, dan mendikte. Hilangkan rasa khawatir apabila orangtua menjalin sikap ’pertemanan’ dengan anak maka anak akan menjadi tidak hormat dan tidak patuh kepada orangtua. Justru sebaliknya, banyak anak sangat menghargai orangtuanya karena ia merasakan betapa orangtuanya tidak terlalu menekankan jarak di antara mereka. Anak akan sangat santun kepada orangtuanya dengan penuh kesadaran demi melihat betapa orangtua dengan rela hati menanggalkan status mereka dan menyejajarkan diri dengannya (Dra. V. Dwiyani, 2004).

(Sumber : perkembangananak.com)

Anak adalah sosok yang bisa memberikan energi kepada orangtuanya untuk dapat bertahan hidup. Anak adalah harapan orangtua. Keberhasilan dan kebahagiaan yang dirasakan oleh anak adalah dirasakan juga oleh orangtuanya. Senyum anak yang terpancar dari wajahnya adalah senyum orangtuanya juga.

Pada umumnya, semua orangtua tentu akan sangat mencintai anak mereka. Orangtua ingin selalu dapat membahagiakan anak. Apa saja yang dapat mereka lakukan untuk bisa membahagiakan anak, akan mereka lakukan. Demi membahagiakan anak, orangtua akan rela mengorbankan materi, jiwa, dan juga raga.

Orangtua yang selalu memberikan yang terbaik kepada anak, cepat atau lambat akan segera merasakan suatu kebahagiaan yang tak ternilai harganya. Yaitu, keberhasilan yang dicapai oleh anak. Anak yang merasa dirinya selalu dicintai, diperhatikan, dan diberi dukungan oleh orangtuanya akan lebih mudah mencapai sukses dalam hidupnya. Bagaimana tidak? Anak tersebut akan selalu memiliki energi untuk dapat melakukan sesuatu yang lebih baik sesuai dengan apa yang ingin dicapainya.

Untuk itu, keberhasilan yang diraih oleh anak adalah buah dari pengorbanan orangtuanya dalam memberikan yang terbaik kepada anak. Orangtua yang memiliki harta, mereka akan memberikannya untuk kebutuhan anak. Jika orangtua tidak memiliki harta, orangtua dapat memberikan tenaga, pikiran, dan perhatian kepada anak (Nayati Ashriyah, 2007).

(Sumber : perkembangananak.com)

Di bawah ini adalah beberapa peran orangtua dalam rangka membantu anak mengembangkan potensinya, di antaranya (Wiwien Dinar Pratisti, 2008):

  1. Saat yang paling tepat untuk mengembangkan potensi anak adalah ketika ia berusia 6 bulan sampai dengan 2 tahun.
  2. Anak yang paling kompeten memiliki hubungan yang dekat dengan orang-orang di sekitarnya, terutama pada bulan-bulan awal setelah kelahiran.
  3. Kualitas waktu kebersamaan antara anak dan orang tua lebih penting dibandingkan dengan kuantitas; peran pengganti orang tua dibutuhkan untuk memberikan pengalaman sosial.
  4. Memberikan bantuan di saat yang tepat.
  5. Memberikan kesempatan untuk memperoleh perhatian.
  6. Memberi pengarahan dan dukungan terhadap aktivitas anak.
  7. Sering mengajak berkomunikasi untuk mengembangkan kemampuan bahasa pada anak.
  8. Memberikan keleluasaan bagi anak untuk bergerak secara bebas.
  9. Memberi kesempatan pada anak untuk melihat secara luas berbagai informasi yang berasal dari lingkungan.

(Sumber : perkembangananak.com)

Who's Online

We have 6 guests online
mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterToday355
mod_vvisit_counterYesterday711
mod_vvisit_counterThis week1066
mod_vvisit_counterLast week3182
mod_vvisit_counterThis month2522
mod_vvisit_counterLast month20550
mod_vvisit_counterAll days105168